Senin, 28 Januari 2013
Ternyata Dia Ibuku
“Oh My God” umpatku saat tiba di depan pintu kelas dengan menepuk keningku. Hebat. Barang penentu hidupku tertinggal di mobil. Kulirik jam tangan pemberian kakakku tercinta. Masih ada waktu 5 menit sebelum bel masuk berbunyi. “Ren, tolong taruh di mejaku” kataku kepada Rendra---yang sepertinya sedang belajar, maklumlah dia adalah anak terrajin di kelas---sambil meleparkan tas yang minta ampun beratnya itu.
Sambil berlari menuruni tangga satu demi satu aku berdoa semoga Pak Min, supirku itu belum beranjak dari tempatnya. Saking kalutnya hingga kutak memperhatikan jalan dan akhirnya aku menabrak sesuatu. “Ini gimana sih? Gak tau apa orang lagi panik?” makiku pada orang yang kutabrak. Sepertinya orang itu ingin menyemprotkan kata-kata tak pantas padaku. Tapi saking kalut yang benar-benar kalut aku langsung berlari lebih kencang lagi. Unlucky. Ternyata Pak Min sudah pergi menghilang dari pandangan.
Aku kembali ke kelas dengan perasaan menyedihkan. Mustahil pula jika Pak Min aku suruh kembali karena ia harus segera mengantarkan Ayah ke Semarang untuk menengok perusahaannya yang ada di sana. Namun bagaimanapun aku akan melatih mentalku untuk yang kesekian kalinya. Bagaimana tidak aku sudah sering tertangkap basah telah melanggar peraturan Bu Susan, guru Bahasa Asingku yang amat kejam dan killer. Tapi apa boleh buat untuk bahasa asing yang aku sukai dan sudah lama aku dambakan.
Beberapa menit setelah bel masuk, Bu Susan pun masuk ke kelas XI IPA 2 untuk mengajarkan Bahasa Prancis. Dan seperti biasa Bu Susan selalu mengecek barang bawaan setiap murid terutama perlengkapan untuk belajar Bahasa Prancis. Bodohnya perlengkapanku yang sangat penting dan juga sangat diutamakan oleh Bu Susan yaitu kamus Bahasa Prancis malah tertinggal di mobil. Sekarang matilah aku. Kemarin sudah dihukum karena tidak mengerjakan tugas, sekarang karena tidak membawa kamus.
Aku menanti Bu Susan melewati bangkuku dan memarahiku. Dan tibalah saatnya Bu Susan berada di sampingku. Ia berdiri tegak dan melototiku tajam-tajam. “Hei, Mengapa di mejamu hanya ada buku tulis satu buah?” aku terdiam sambil menunduk serta tersenyum jail seakan terbiasa dengan suasana ini. “kamu lagi kamu lagi. Kemarin kamu sudah tidak mengerjakan tugas dari saya, sekarang tidak membawa kamus, besok apa lagi? Kamu ini berniat untuk belajar tidak sih?”
Aku pun memberanikan diri untuk mengangkat kepala. Namun belum sampai aku melihat raut wajah Bu Susan yang sepertinya mengerikan itu, ia telah mengebrak mejaku dan berkata dengan suara terlantang yang pernah aku dengar. “Untuk yang lain, hukuman apa yang pantas diterima oleh manusia satu ini? Apakah perlu saya mengusirnya dari kelas?” Mendengarnya, seakan aku ingin menangis dalam hati. Kutak membayangkan kalau aku harus ketinggalan materi ini. Secara aku cinta mati dengan Bahasa Prancis. “Oke, jika tidak ada jawaban berarti saya harus mengeluarkan kamu dari jam pelajaran ini. Dan saya tugaskan kamu untuk membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa kamu tidak serius mengikuti pelajaran saya dan tidak akan mengulanginya lagi, diketik dan disertai dengan tanda tangan kepala sekolah” ucap Bu Susan tanpa belas kasihan.
Dengan sempoyongan aku pun berjalan keluar kelas dengan membawa serta buku tulis, bolpoin, dan laptop kesayanganku. Aku segera menuju perpustakaan dan membuat surat pernyataan yang diperintahkan oleh Bu Susan tadi. Beruntungnya aku bisa bertemu kepala sekolah di sana. Segera aku menghampiri beliau dan mengawali obrolan dengan curcol (curhat colongan). Ibu kepala sekolah mendengarkan dengan seksama. Dan dengan mudahnya aku mendapatkan tanda tangannya. Selanjutnya beliau menasihatiku untuk tetap bersabar menghadapi guru semacam Bu Susan. Bu Susan memang sudah terkenal kejam sedari dulu sebelum aku masuk di sekolah ini.
Aku pun kembali ke kelas setelah aku browsing sebentar di perpustakaan. Dan diperjalanan aku pun berpapasan dengan Bu Susan. Lalu kuserahkan surat pernyataan tersebut. Tiada sepatah kata pun keluar dari mulut Bu Susan. Matanya pun tertancap tajam ke mataku yang sebenarnya tak kuasa untuk membalas tatapannya. Benar-benar mengerikan bila ada di situasi saat itu.
Seisi kelas pun ricuh dengan kedatanganku. Semua berteriak memanggil namaku seakan mereka tahu benar aku ingin berteriak meluapkan amarahku kepada Bu Susan yang menyebalkan. Heni, salah satu teman sekelasku yang kebetulan dekat denganku pun menghampiriku seketika. “Ya ampun Risa, kamu nggak papa kan? Gimana suratnya? Terus kamu diapain sama Kepsek?”
Tawaku meledak seketika ketika melihat penyakit panik Heni kambuh lagi. “Aku nggak papa Heniku sayang” kataku sambil mencubit pipinya yang gembul-gembul. Aku bahagia bisa mendapatkan teman dekat sepertinya. Dia sangat ramah dan mengertiku.
Bel istirahat berbunyi setelah bel perutku berbunyi. Bisa-bisanya perutku ini mengerti bahwa sekarang waktunya untuk memberikan jatah padanya. Aku menarik tangan Heni dan langsung tancap gas menuju kantin dan mengisi bahan bakar untuk bekal pelajaran Biologi nantinya. Tak kusadari aku menabrak seseorang hingga minuman yang dibawanya menumpahi orang lain di sebelahnya. Dan kau tau? Orang yang kutabrak adalah anak kesayangan Bu Susan. Dan apa? Orang yang di sampingnya adalah Bu Susan. Oh My God. Aku bertemu anak Bu Susan dan sekaligus Ibunya? Hebat, acungan 5 jempol kuhadiahi untukmu Risa.
“Risa, ini adalah kesepuluh kalinya kamu melakukan kesalahan” Dalam hati aku bersorak bahagia karena aku akan diberi piring cantik karena telah melakukan 10 kesalahan pada Bu Susan sebulan terakhir ini. “Ikut ke ruangan saya. Sekarang”
Aku berjalan mengikuti Bu Susan. Begitu pula anak kesanyangannya. Aku meliriknya tajam sambil mengatainya. “Heh, gara-gara kamu nih aku harus berurusan lagi sama monster tau?” ucapku langsung ke lubang kupingnya. Ia hanya berdiam diri dan terus melanjutkan berjalannya.
Dan pada akhirnya hukuman itu pun berakhir pada penghormatan bendera yang harus aku lakukan di tengah terik matahari yang tiada ramah pada dunia saat ini. Aku harus hormat di depan bendera sangsaka merah-putih di sisa jam pelajaran yang ada.
Dan murid lelaki kesayangan Bu Susan yang sebenarnya adalah ketua OSIS SMA Berbangsa itu berperan sebagai pengawas sekaligus penonton. Aku sangat benci suasana itu. Saking panasnya dan aku belum sempat mengisi perutku di kantin tadi, aku tiada kuasa lagi. Aku berusaha menatap bendera yang berada nun diatas sana tapi keringatku pun mulai bercucuran deras dan aku tak kuasa lagi untuk berdiri. Dan akhirnya semua menjadi gelap dan hitam.
Keesokan harinya, aku sudah ada di kamarku sendiri. Kucoba untuk bangkit dari tidurku dan ternyata kepalaku masih pusing. Kulihat jam weker mickey mouseku telah menunjukkan pukul 2.30 dini hari. Selanjutnya aku berjalan menuju dapur dan mendapati ayah sedang meminum segelas kopi sambil memikirkan sesuatu. “Ayah, kok belum tidur?” Aku menghampiri dan duduk di sampingnya. Ayah terlihat lesu dini ini. Dan tiba-tiba Ayah pun menghindar dariku. Aku tak sama sekali memahaminya.
Di sekolah aku bertemu dengan Bu Susan. Dan kali ini Bu Susan salah tingkah melihatku. Setelah aku hampir membelok, Bu Susan pun memanggilku. Namun anehnya Bu Susan lalu membatalkan niatnya untuk bicara padaku.
Aku segera curhat pada Heni. Heni pun merasa ada sesuatu yang mengganjal. Pada saat istirahat pun aku sempat berpapasan dengan Bu Susan dan tak sengaja menjatuhkan tumpukan buku yang ia bawa. Namun anehnya Bu Susan tidak marah bahkan tidak melayangkan tatapan tajamnya pada mataku. Dan yang semakin membuatku terkejut, Bu Susan yang meminta maaf padaku.
Kehidupanku menjadi aneh. Menurutku ada yang tidak aku ketahui selama aku pingsan kemarin siang. Segera aku mencari lelaki yang kemarin mengawasiku. Tapi, lelaki itu menutup mulutnya rapat-rapat hingga aku selalu mengikutinya kemanapun ia berada dan selalu menanyainya dengan pertanyaan yang sama.
Hingga pada akhirnya semua terungkap melalui jalan yang tak terduga. Ketika itu Ayahku yang kebetulan menjemputku. Dan saat aku menghampiri mobil Ayah, disana aku tak mendapati seorang pun di dalamnya. Aku melihat sekeliling dan menangkap bayangan Ayah dari kejauhan yang sedang berbicara serius dengan seseorang yang sepertinya sangat tak asing bagiku. Bu Susan dan lelaki itu.
Segera aku mendekatinya dan memasang telinga siaga 3. “Bagaimanapun kamu adalah ibunya. Aku tak masalah jika kamu menghianatiku tapi kamu tak bisa lepas tanggung jawab dari anakmu sendiri. Dia adalah darah dagingmu sendiri. Dan aku berharap kamu harus mengakuinya secara langsung pada Risa” ujar seseorang yaitu Ayah.
Raut wajah Bu Susan tak seperti biasa. Kini ia begitu menyesal dan menyayangkan hal itu. “Oke, aku akan mengaku” Jantungku berhenti sejenak.
Apakah yang akan aku lakukan jika benar Bu Susan adalah ibuku? Sepertinya aku tak akan kuasa menahan semua ini. Selama 16 tahun aku hidup tanpa ibu dan sudah menjadi kebiasaanku hidup tanpa ibu. Bahkan aku sudah melupakan kata ‘ibu’ dihatiku. Bagiku tiada ibu yang baik bagiku setelah aku mendengar cerita tentang ibu yang meninggalkanku setelah melahirkanku, dari Ayah.
Aku berlari sekuat tenaga dan ternyata lelaki yang bersama Bu Susan itu pun melihatku. Ia mengejarku sementara Bu Susan dan Ayah tetap melanjutkan obrolannya tanpa mengetahui keberadaanku sekarang.
Pada dasarnya tanaga perempuan lebih lemah dari tenaga laki-laki. Akhirnya lelaki itu menahan tanganku dan menarikku dalam pelukannya. “Aku tau perasaanmu karena aku juga begitu. Beruntung aku ditemukan oleh Bu Susan waktu itu. Dan jadilah aku sekarang” Aku terus mengalirkan air mata yang tak dapat kubendung lagi. “Sekarang, jangan bersikap seperti anak kecil. Bu Susan adalah ibumu dan tak mungkin jika ia berlaku jahat padamu. Pasti ada alasan khusus mengapa ia meninggalkanmu. Tenanglah, aku akan selalu di sampingmu” Ia pun melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata yang mengalir di pipiku. Tatapan hangat pun tercurah padaku seutuhnya.
Lelaki yang tak kukenal itu pun menuntunku menuju tempat bertikainya Ayah dan Bu Susan. Akhirnya Bu Susan memelukku dan mengakui bahwa dirinya salah karena telah meninggalkanku setelah melahirkanku. Aku tak mampu berkata lagi. “Risa, Mama minta maaf. Mama meninggalkanmu karena Mama malu jika akhirnya orangtua Mama tau Mama telah melahirkanmu di kota yang penuh kekejaman ini” ujarnya sambil menahan air mata yang menyeruak di ujung matanya.
Keesokan harinya berita bahwa aku anak Bu Susan telah meluas. Tak apalah, pada akhirnya pun aku mengerti apa yang Bu Susan eh, Mama rasakan. Aku pun mulai dekat dengan anak angkat Bu Susan itu. Ia sangat baik padaku juga ia sangat pandai berbahasa Prancis. Hingga setiap hari ia datang ke rumahku dan mengajariku berbahasa Prancis dengan benar.
-selesai-
Langganan:
Postingan (Atom)