Rabu, 31 Desember 2014

Terimakasih 2014!!!

2014 telah membawaku kepada kenangan manis yang dapat membuatku merasa teristimewa. Walaupun itu diluar harapan, namun yakinlah bahwa kenangan itu akan tersimpan rapi dalam hatiku.
2014 juga telah menyadarkanku akan arti banyak hal di dunia ini. Tentang banyak hal yang sulit aku pahami sebelumnya, bahkan sebagai seseorang yang beranjak dewasa sekalipun. Inilah yang membuatku belajar dan ingin selalu menjadi yang lebih baik dari yang sebelumnya.
Tahun 2014, tahun yang sulit diungkapkan. Terlalu penuh dengan air mata kebahagiaan maupun kesedihan. Hanya kata terimakasih lah yang dapat terucap. Terimakasih 2014 yang telah memberikanku segala pengalaman tak terduga yang mungkin belum pernah aku dapatkan di tahun sebelumnya. Dan terimakasih pula untuk kesempatan yang telah Dia berikan untukku menjalani kehidupan di tahun 2014 ini. Tanpa-Nya, mungkin aku takkan mampu bertahan hidup di dalam kehidupan yang serba kejam ini.
Selamat datang tahun 2015. Akan kututup tahun ini dengan senyuman yang kian terpampang hingga esok hari. Dengan semangat sederhana yang menggebu-gebu untuk mencapai sebuah impian terbesar dalam hidupku.

Jumat, 26 Desember 2014

Ketulusan Hati

 

Apa sih artinya sebuah ketulusan itu?

Tulus dalam hal mencintai?

Tulus dalam hal menyayangi?

Banyak orang mengatakan bahwa tulus adalah menerima apa adanya. Namun bagiku, apa adanya tidak mewakili seseorang yang berlaku tulus. Menerima apa adanya terkadang bersifat conditional banget. Keadaan lah yang membuat seseorang mau tidak mau menerima apa adanya padahal dalam hati kecilnya ia berharap sesuatu yang mungkin tidak akan terwujud.

Menurutku, tulus adalah sebuah kata yang bermakna tanpa pamrih. Ya, orang yang tulus tak akan berharap sesuatu apapun untuk sebuah pembalasan atas apa yang ia lakukan. Namun sulit kutemui orang yang seperti itu. Justru orang-orang selalu menanyakan apa hasil yang didapat selama apa yang ia lakukan. Jarang sekali seseorang tidak mengharapkan imbalan atas apa yang ia lakukan. Helooo ini bukan zaman yang serba gratis, buang air di WC umum aja bayar. Begitulah kalimat yang terucap tiap kali seseorang belum mendapatkan imbalan yang semestinya. Bahkan tak jarang pula orang berencana untuk melakukan sesuatu agar mendapatkan suatu timbal balik yang lebih. Sungguh sangatlah memprihatinkan moral manusia di dunia saat ini.

Kuakui, aku pun bukan seseorang yang tulus. Banyak bayang-bayang harapan yang selalu muncul ketika aku melakukan sesuatu untuk orang lain, dan segala pengandaian yang selalu kubuat. Mungkin itu yang membuat hati ini tak tenang karena selalu berpikiran bahwa sesuatu yang telah kulakukan selama ini akan sia-sia dan tiada yang bisa kudapat. Aku terlalu takut dengan harapan yang selalu tertanam akhirnya tidak tumbuh dan berbunga kenyataan. Aku terlalu takut apabila mentari terbenam dan tak menampakkan diri lagi ketika subuh menjelang. Aku juga terlalu takut bila saat itu tiba, aku belum berhasil membawanya berada dalam kebahagiaan.