Minggu, 26 Mei 2013

When I Was Your Man

Same bed, but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio, but it don't sound the same
When our friends talk about you all it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name


It all just sounds like ooh, ooh, oooh, oooh
Mmm too young, too dumb to realize


That I should've bought you flowers and held your hand
Shoulda gave you all my hours when I had the chance
Take you to every party cause all you wanted to do was dance
Now my baby's dancing, but she's dancing with another man


My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Caused a good strong woman like you to walk out my life
Now I'll never, never get to clean up the mess I made ooh
And that haunts me every time I close my eyes


It all just sounds like ooh, ooh, oooh, oooh 
Mmm too young, too dumb to realize


That I should've bought you flowers and held your hand
Shoulda gave you all my hours when I had the chance
Take you to every party cause all you wanted to do was dance           
Now my baby's dancing, but she's dancing with another man


Although it hurts I'll be the first to say that I was wrong
Oh, I know I'm probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know


I hope he buys you flowers, I hope he holds your hand
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you love to dance        
Do all the things I should've done when I was your man
Do all the things I should've done when I was your man

Kamis, 23 Mei 2013

Letters

Hari ini, makasih banget ya buat Fisa semangatnya. Aku jadi bisa melupakan beban pikiranku sejenak. Maaf ya aku nggak mau cerita sama kamu Fis, nggak tau kenapa aku tadi lagi nggak mood cerita apa-apa. Lagian tadi aku cuma kebawa suasana aja, bawaannya sebeel aja sama orang jadinya malah keliatan galau deh, dieem aja.

Kedua, aku juga pengen berterimakasih nih sama Mbak Nisya. Hadiahnya bagus, aku suka. Bakal tak simpen baik-baik deh. Aku nggak nyangka lho bisa nulis hard news yang kesalahannya cuma pada penggunaan huruf kapital doang. Padahal kalo Mbak Nisya tau, itu hard news solo perdanaku lho. Berkat laptop Fisa juga tu hard news bisa selese, makasih sekali lagi Fisaa. Oya, makasih juga ya coklatnya. Bisa jadi pengembali mood yang rusak nih mbak. Tau aja yang aku butuhin buat nenangin pikiran sejenak. Aku bakal latihan terus kok mbak. Berhasil nih bikin aku galau jurusan lagi. Tapi, tetep ajalah sama keputusan awal. Nulis itu jadi hidup keduaku aja. Sementara nanti aku jadi dokter hewan (aamiin) aku kan bisa sambil nulis, kayak nasihat kakak tercinta nih. Ceilee ihiir. Yang jelas aku akan tetep nulis kok mbak, aku nggak bakalan lupa sama pesennya Mbak Nisya. Aku sayang Mbak Nisyaa {}, eh sayang Fisa juga {} yeeee.

Sabtu, 18 Mei 2013

Terlalu Melow

Okey, sudah banyak quotes, sudah banyak kata-kata bijak yang aku keluarkan tapi itu pun tidak mengubah hidupku. Sama saja, berhenti dan stuck. Mungkinkah ini adalah takdir hidupku? Tapi mengapa harus begini?

Selalu salah di setiap keadaan, di setiap tempat aku berada.

Rasanya susah untuk mengerti orang lain dengan caraku sendiri, dengan aku yang apa adanya. Sedang aku menuntut mereka 'harus' mengertiku. Itukah yang membuatku begini? Aku terlalu egois, memang. Selalu memimpikan sesuau hal yang indah dan ingin semua serba sempurna seperti apa yang aku inginkan. Seakan semua ingin tertuju kepadaku.

Diam, selama ini aku berusaha untuk diam, tapi ini bukan aku. Terlalu diam membuatku salah tingkah dan mudah berprasangka. Lalu dengan apa? Berbicara, terlalu banyak, jadi terkesan 'sok pamer'.

Dewasa, seperti apa cara menjadi dewasa? Kata orang, aku sudah terlihat dewasa. Dewasa apanya? Aku yang seperti ini sudah bisa dibilang dewasa? Aku yang masih sekalu egois, yang selalu banyak menuntu ini-itu, yang selalu nggak bisa jadi diriku sendiri, yang selalu nggak bisa ngeliat keadaan, yang selalu menempatkan diri dengan benar. Aku pun nggak tau aku siapa. Aku nggak kenal jati diriku, aku nggak kenal siapa diriku sebenarnya, dan apa yang aku inginkan dari hidup ini.

Selanjutnya, aku hanya bisa terus menyalahkan hidup yang sudah berjalan 16 tahun 7 bulan. Menyesali setiap keadaan yang terjadi sebelumnya. Memaki diri sendiri. Menyiksa perasaan batin dengan banyak prasangka. Harus sampai kapan harus begini?

Belum siap, kataku. Lalu?

Jangan Hiraukan Ini

Sekarang, nggak tau lah gimana lagi aku bingung. Aku jadi orang yang paling nggak tau sekarang. Paling telat tau buat sesuatu yang terjadi di sekitarku, bahkan apa yang terjadi pada teman dekatku sendiri, yang paling sering ketemu, setiap hari bahkan.

Salahku nggak sih kalo aku nggak tau? Yaa aku nggak tau kan karena aku nggak pernah nanya sama dia, lagian dia juga nggak pernah cerita dan nggak keliatan kalo lagi ada masalah, ya wajar aja dong kalo aku nggak khawatir. Lagian kalo ada masalah pun toh aku nggak dianggap penting untuk tau hal itu, nggak terlalu berpengaruh. Aku cukup mengerti itu. Pasti ada lah sesuatu yang dirahasiain dari seorang sahabat sekalipun. Pasti ada yang disembunyiin, semua itu wajar kok. Sahabat kerjaannya nggak cuma cerita satu sama lain, sahabat juga punya kesibukan masing-masing, urusan sendiri, kehidupan yang berbeda dengan kita. Aku sih nggak mau dia cuma kepaksa sahabatan sama aku, aku mau yaa apa adanya lah. Mending kalo dia nggak nyaman sih nggak usah dipaksa jadi sahabat kali. Ntar malah jadi nggak nyaman jadinya. Apa artinya seorang sahabat tapi mau cerita aja nggak enak, nggak nyaman. Cerita aja cuma karena malu sama status, "katanya sahabat?". Aku sih nggak mau kayak gitu, terkesan pamrih. Padahal kan sahabat itu hubungan timbal balik yang alami, tanpa pamrih dan apa adanya. Jujur, aku pengin punya sahabat yang kayak gitu. Yaa bukan nyalahin sahabat-sahabat yang sudah kumiliki sekarang sih, mereka baik sama aku, bahkan terlalu baik bagi aku yang menurutku kurang bisa menempatkan diri diantara mereka.