Sabtu, 02 Februari 2013
Tarian Cinta
Dengan adanya kejadian buruk yang menimpa Nina, ia harus belajar untuk bisa menjadi lebih sabar. Entah apa yang membuat teman-teman Nina menjauhinya. Nina pikir ini karena ia memiliki hobi yang berbeda dengan yang lainnya. Menari. Unik bukan? Yah, zaman sekarang gitu. Mana ada sih yang mau belajar apalagi memiliki hobi menari. Untunglah tak semua teman Nina berlaku seperti itu. Farel misalnya. Farel selalu menemani Nina apapun dan dimanapun keadaannya. Jadilah Nina bisa tersenyum sepanjang waktu.
Farel dan Nina dahulu bersatu bukan karena memiliki hobi yang sama tapi memiliki impian yang sama. Mereka ingin membuktikan pada dunia bahwa dia berada di dunia ini bukanlah sia-sia. Mereka juga ingin bermanfaat dan memajukan teknologi di dunia ini. Impian yang sangat besar tentunya. Ohya, jika bicara tentang impian, Nina memiliki impian yang sangat diidamkan sejak ia kecil dulu. Menjadi Miss Universe. Entah apa yang terbesit dalam benaknya hingga ingin sekali menjadi Miss Universe.
Namun disisi lain dengan hobinya saat ini, Nina telah berhasil membuat gurunya di sekolah bangga padanya. Banyak sekali prestasi tarinya di sekolah. Mulai dari tingkat kota hingga nasional. Hebat bukan? Bahkan pernah beberapa kali Nina mengikuti ajang budaya paling menarik di tingkat Internasional. Namun sayang, Nina hanya bisa menjadikannya sebagai pengalamannya.
Back to the matter. Suatu hari, Nina sedang pulang sekolah. Di jalan, Nina dicegat oleh beberapa temannya. Karena Nina hanya berjalan kaki jadilah ia mudah untuk dilempari tomat dan sayuran busuk. Dengan sabar Nina menegaskan pada teman-temannya apa maksud mereka melemparinya seperti itu.
Tanpa perasaan bersalah dan tak menghiraukan air mata Nina yang perlahan mengalir di pipinya mereka pun menjawab. “Karena kamu katrok, nggak tau pergaulan. Pikiranmu cuma nari thok” kata mereka lalu tertawa lepas seakan puas telah menemukan kebahagiaan mereka dengan melihat tubuh Nina yang penuh dengan sayuran busuk.
Nina tak habis pikir bagaimana jalan pikiran teman-temannya. Apakah mereka tak berpikir tentang bakat mereka. Memangnya apa bakat mereka? Tanya Nina dalam hati.
Tak lama kemudian seseorang yang sering melindungi Nina walaupun terhitung sering telat datang, Farel tiba-tiba meneriakkan kata nggak jelas. Yang jelas dia sedang marah. Farel tak mau Nina sakit apalagi menangis di depan teman-teman Nina yang saat itu tertawa terbahak-bahak.
Dalam hati Nina bersyukur pada Tuhan karena telah dikirimi seorang hero untuknya. Yang selalu membelanya, selalu melindunginya, menghiburnya, dan menghapus air matanya. Menurutnya Farel terlalu baik untuknya. Seharusnya Farel tidak memihaknya karena Nina merasa tidak pantas untuk disampingnya. Selain dia adalah pahlawan bagi Nina, tapi menurutnya Farel lebih pantas dengan Desy, cewek paling cantik di sekolah. Selain Farel itu baik, dia juga pintar, ganteng, gaul, kaya pula. Sedangkan Nina? Ia bukanlah siapa-siapa. Nina merasa dirinya memang katrok, nggak tau pergaulan remaja zaman sekarang.
Farel menghampiri Nina dan seketika memeluknya erat-erat. Kemudian dibawanya Nina menuju mobilnya yang tak jauh dari kerumunan itu. Lalu salah satu dari pengusil itu teriak sekeras-kerasnya. “Nin, apa lo nggak ngaca? Farel tuh cuman akting. Nggak mungkin dia suka sama lo. Lo nggak tau kan kalo dibelakang lo dia pacaran sama Desy?”
Memang benar. Nina merasa dia harus menjauhi Farel secepatnya karena dia tak pantas untuk Farel. “Rel, thanks... aku nggak bisa kalo kamu nganter aku lagi. Aku bisa pulang sendiri” tanpa berpikir panjang, Nina meninggalkan Farel yang masih terheran-heran melihat sikap Nina.
Keesokan harinya, Nina tak sanggup untuk bertemu Farel lagi. Lalu ia memutuskan untuk pura-pura sakit agar ia bisa membolos untuk hari itu. Namun sia-sia ia menghindar dengan alasan sakit. Toh, sore harinya Farel datang ke rumah Nina. Untungnya Nina sudah menceritakannya pada bundanya. Jadi saat Farel datang, bunda Nina meminta izin terlebih dahulu pada Nina.
Setelah Nina menolak jelas kedatangan Farel, bunda Nina pun mengerti. Ia lalu menghampiri Farel yang sedang menunggu di ruang tamu. “Maaf nih nak Farel, Nina masih tidur. Kalau besok ketemu di sekolah aja gimana? Takutnya nanti malah Nina kurang istirahat” ujar bunda Nina dengan naluri keibuannya yang terpancar jelas dari wajahnya.
Sinar kekecewaan terpancar jelas dari wajah Farel. “Hm, boleh saya melihat Nina sebentar?” pinta Farel untuk menutupi rasa kecewanya karena gagal bertemu dengan Nina. Dengan melihatnya pun mungkin sudah cukup.
Bunda Nina seketika bingung dan diam beribu kata. Ia tak bisa ngomong apapun saat itu. Ia hanya bisa membawa Farel menuju kamar Nina dan berharap Nina tidur di kasurnya. Begitu sampai di depan kamar Nina, bunda Nina merasa ragu jika Nina sedang tidur. Sedangkan Farel tersenyum kecil melihat sebuah tulisan di pintu kamar Nina yang ia buat bersama dulu sewaktu duduk di bangku SD.
Dan ketika bunda Nina membuka pintu kamar, benar adanya. Nina sedang duduk termangu di jendela kamarnya. Kebiasaan lamanya ketika sedang ada pikiran. Seketika Farel menatap bunda Nina. Tapi tak ada jawaban atas pertanyaannya. Mengapa Nina tidak tidur melainkan sedang melamun dan duduk di jendela. “Nina, kamu bohong ya?” Tanya Farel yang membuat Nina terkejut setengah mati.
Seketika Nina mendorong Farel untuk keluar dari kamarnya. “Maaf Rel” tapi sayang seribu sayang, tenaga Nina tak sebanding dengan kekuatan tangan kekar Farel. Terpaksalah Nina mengalah.
Farel pun mulai angkat bicara. “Kenapa? Ada apa? Apa aku ada salah?” ditatapnya Nina tajam-tajam hingga Nina tak kuasa untuk menjawab. “Nin?”
Entahlah, seakan Nina tak rela mengucapkan kalimat ini. Hatinya pun menolak. Tapi ia harus mengatakannya sekarang sebelum semuanya terlambat dan akan menyakitkannya nanti. “Aku… aku… nggak bisa lagi… ketemu, sama kamu” kata Nina mengeja. Air mata Nina sudah diujung tanduk. Tinggal sedetik lagi menetes satu per satu.
Kalimat yang diucapkan Nina tak dapat dipahaminya secara lahir dan batin. Farel pun menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir mungil Nina. Namun tak ada sepatah kata pun yang keluar. Seakan tak tega dengan anak tercintanya, bunda Nina lantas menarik tangan Farel untuk keluar dari kamar Nina. Farel bertanya-tanya dalam hati. Ia bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Bunda Nina juga merasa tak enak dengan Farel. Walau bagaimanapun bunda Nina juga telah menganggap Farel seperti anaknya sendiri. “Duduk Nak” mereka pun duduk di sofa ruang tamu keluarga Nina itu. “Sebenarnya saya juga ndak tega melihat Nina seperti itu. Tapi mohon Nak Farel, Ibu mohon jangan ganggu Nina lagi. Ibu tidak mau Nina menjadi tambah sakit. Sudah cukup Nak Farel membohongi Nina seperti ini”
Farel heran dengan perkataan bunda Nina itu. Ia merasa tidak sama sekali berbohong dengan Nina. Iya memang ada satu yang ia tutupi yaitu perasaannya terhadap gadis yang satu ini. “Kalau boleh saya tau, memang saya bohong tentang apa ya?”
Ditatapnya Farel dengan tatapan tajam tapi lembut. “Maaf, Ibu ndak bisa cerita kalau soal itu. Jadi saya mohon jauhi Nina” ujar bunda Nina. Merasa sudah cukup telah dibuat penasaran dengan keluarga Nina, Farel pun pamit pulang. Tak lupa ia menitip salam untuk Nina.
Sejak saat itu, Nina tak pernah lagi berhubungan dengan Farel. Nina pun tak pernah lagi menerima telepon ataupun membalas pesan dari Farel. Biarlah Farel mencari sendiri apa kesalahannya. Lagi pula sebentar lagi akan ada Ujian kelulusan dan tes masuk perguruan tinggi. Dan syukur akhirnya Nina pun lulus dengan nilai yang memuaskan dan masuk ke perguruan tinggi terkemuka di Jogja.
Sedangkan Farel? Ia mengikuti kehendak Papanya untuk meneruskan kuliah design di Paris, Prancis. Ia bimbang apakah ia harus memberitahu Nina atau tidak mengenai hal ini. Mungkin berkirim surat adalah jalan terbaik. Karena sekarang nomor Nina sudah tidak aktif. Dan untuk bertemu? Jangan ditanya, susah pastinya.
Ternyata Desy, cewek yang sudah lama mengincar Farel tapi nggak kesampaian itu pun mengetahui bahwa Farel mengirim surat untuk Nina. Lalu dengan langkah singkat ia menuju kotak pos rumah Nina. Ia pun mengambil sepucuk surat dari Farel lalu membakarnya.
Beberapa tahun kemudian, untuk mencapai impian terbesarnya Nina mengikuti ajang pemilihan Puteri Indonesia untuk langkah awalnya meraih semua yang ia inginkan. Dan Nina pun terkejut bahwa ia memenangkannya. Inilah saatnya untuk meraih impian tertinggi yaitu menjadi Miss Universe. Ia berangkat ke Paris sebulan lagi. Nina tak sabar lagi melihat keelokan kota Paris yang katanya adalah kota yang elegant dan mewah itu.
Setelah semua perlengkapan telah siap, Nina pun berangkat dari bandara Adji sutjipto dengan transit di bandara Soekarno-Hatta ke Paris. Wow, Nina merasa ia sedang tidur dan memimpikan semua ini.
Setibanya di Paris, Ia beristirahat di Hotel bintang lima yang super mewah. Dengan tanpa mengkhawatirkan biaya sewa karena ini semua sudah ditanggung oleh pihak penyelenggara tentunya. Benar kata Farel dulu, kota Paris adalah kota terindah yang berada di dunia ini. Nina jadi memikirkan Farel. Bagaimana kabar Farel sekarang? Dimana? Ah, menurut Nina, Farel adalah mimpi terburuknya yang pernah singgah di hidupnya. Dan ia tak pernah sudi lagi untuk berurusan dengannya. Bagaimanapun juga Farel telah berbohong padanya. Katanya aja dulu nggak boleh ada kebohongan. Tapi apa? Ah, sudahlah. Pikir Nina ditengah kesibukannya menyiapkan segala sesuatunya.
Tak lupa saat tes berlangsung, Nina menyajikan sebuah tarian klasik yang ia padukan dengan kreasinya sendiri tanpa mempengaruhi unsur aslinya. Dan hasilnya top banget. Tak sia-sia ia belajar menari di sebuah sanggar kecil yang terletak di pojok kampung.
Tibalah malam puncak penganugerahannya. Hati Nina jadi tak menentu. Lalu ia pun mencoba menelepon bundanya. Tetap saja hatinya tak tenang. Hingga ia berada di dalam ruang ganti. “Take it for me please.” kata seseorang yang suaranya tak asing bagi Nina. Nina pun berusaha tak menghiraukannya. Takutnya nanti mengganggu berjalannya acara.
Inilah pengumuman yang paling ditunggu-tunggu. Jantung Nina berdebar tak menentu dan membuatnya jadi tak PD. “And we’ll announce the winner, the winner is… Prisinina Pramyari from Indonesia” Seketika itu juga Nina menganga. Ia tak percaya ini. Dan percaya tak percaya ia harus berjalan ke depan untuk menerima penghargaan atas usahanya itu.
Seusainya acara penghargaan tersebut Nina langsung menuju tempat favoritnya saat itu. Di sebuah taman, Nina duduk di sebuah bangku taman dengan sembari melahap sebuah burger yang baru saja dibelinya di gerai dekat taman tempat ia berada sekarang. Semua yang ia impikan sekarang telah terwujud. Semua berjalan dengan tidak terduga sebelumnya. Seperti mimpi yang selalu tak ada jalan ceritanya.
Nina menatap burger yang ada di tangannya. Tinggal satu gigitan lagi burger yang ada di tangannya itu habis. Perutnya masih melilit meminta makan setelah beberapa hari ini ia jarang makan karena sibuk mengurusi urusan pekerjaan barunya sebagai Miss Universe. Nina pikir, ia harus makan nasi. Sepotong burger lagi pun mungkin tak cukup untuk mengganjal perutnya yang sedang konser.
Akhirnya ia putuskan untuk mencari gerai yang menjual nasi. Tapi setaunya di Paris ini mungkin nggak ada yang menjual nasi. Yang ada hanya toko roti. “Cari gerai nasi? Disini nggak ada yang jual nasi” kata seseorang yang seakan tahu isi hati Nina.
Terkejut mendengarnya, Nina pun menoleh ke arah sumber suara. Nina tambah terkejut begitu tahu siapa yang ditemuinya sore itu. Daun-daun pepohonan jatuh satu per satu sebagai penanda bahwa saat ini adalah musim gugur itu menambah ketampanan seseorang yang berada di dekatnya saat ini. Sungguh keajaiban luar biasa. Juga mimpi yang sempurna. Setelah Nina mendapatkan gelar Miss Universe dan namanya mampu mengguncang dunia, kini ia bertemu dengan pria yang sangat diidamkannya. Seorang pangeran dari negeri kahyangan. “Farel” ucap Nina tak percaya.
Dengan setelan pakaian musim gugur yang sangat modis Farel menatap Nina dalam-dalam. Sedetik kemudian pun mereka tersadar dari lamunan masing-masing. Mereka pun saling pandang. Lalu tawa mereka pun meledak seketika. “Ayok, katanya mau makan nasi? Aku tau dimana tempatnya”
Farel menggenggam erat-erat tangan Nina. Mereka berjalan menuju sebuah tempat perbelanjaan di pusat kota Paris. Di sana ada sebuah gerai dengan nama khas Indonesia ‘Minang Kabau’ Nina menatap heran ke arah Farel. Ia masih bingung mengapa Farel mengetahui keberadaannya juga isi hatinya. Seingatnya, tadi Nina nggak bilang mau cari gerai makanan Indonesia. “By the way, kamu kok bisa ada di Paris?” Tanya Nina ketika mereka memasuki gerai yang bernuansa Padang itu.
Merasa terkejut dengan perkataan Nina, Farel menoleh ke arah Nina seketika. “Emang surat dari aku belum dibaca?”
Nina mengerutkan keningnya. “Surat?” Ia tak merasa menerima apalagi membaca surat dari Farel. “Ih, pasti bohong deh, kamu pasti sengaja kan nyusul aku ke sini? Halah, bilang aja nggak usah malu”
“Aku serius. Oke deh, aku di sini udah 7 tahun yang lalu. Kukira kamu ikut Miss Universe tahun ini karena pengin sekalian cari aku di sini” ujar Farel blak-blakan sambil sesekali cekikikan. Inilah sifat Farel yang dulu dikenal Nina.
Mereka terdiam sesaat saat pesanan datang. “Ih, geer banget sih. Enggak lah. Dan aku nggak pernah nemuin surat itu. Malahan kupikir kamu udah nikah sama Desy itu” kata Nina yang benar-benar membuat hatinya tak keruan. Barulah ia berpikir jika ia harus memakan pesanannya cepat-cepat agar ia tidak pingsan ketika Farel mengakui bahwa ia memang sudah menikah dengan Desy.
Tak disangkanya, Farel malah memberikan respon yang berbeda. Ia tertawa terbahak-bahak dan membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya mengarahkan perhatiannya pada Farel. “Gila, aku nggak mau nikah sama cewek macam dia. Lagian dari dulu aku cuma suka sama kamu *ups” bersamaan dengan ucapan Farel, Nina tersedak karena saking terkejutnya. Ia pun seketika berlari menuju toilet.
Farel menampar pipinya sendiri sambil mengumpat nggak jelas. Bodoh bodoh bodoh. Kenapa timingnya nggak pas sih. Umpat Andika dalam hati. Ia meremas rambutnya keras-keras. Setibanya Nina dari toilet, suasananya pun menjadi garing. Semua diam. Tak ada yang mau angkat bicara diantara keduanya. Hanyalah suara musik khas minang yang mendominasi.
Setelah selesai makan, mereka berdua keluar dari gerai. Suasananya masih garing karena belum ada yang mau angkat bicara. “Maaf” kata keduannya hampir bersamaan. Hal itu malah membuat mereka canggung dan semakin tak keruan. “Aduh, kok jadi nggak enak gini sih” ucap Farel yang merasa dirinya mulai merasakan degupan yang luar biasa di dalam hatinya. “Yah, gini aja deh. Aku sekarang mau tanya satu hal ke kamu. Apa yang buat kamu benci aku saat itu?”
Nina mengerutkan keningnya tak mengerti apa maksud pertanyaan Farel. Ah, akhirnya ia tahu. “Hm, aku nggak bisa terima kalau kamu bohong sama aku”
“Menurutmu aku bohong apa?” tatap Farel lekat-lekat dan mengajak Nina untuk duduk di bangku taman. Tinggal beberapa minggu lagi akan memasuki musim dingin. Karena itulah angin yang berhembus saat ini terasa sangat dingin.
Nina terus mempererat celah pakaiannya terhadap tubuhnya yang sudah sedikit kedinginan. “kamu nggak cerita sama aku soal kamu pacaran sama Desy” Kembali lagi Farel tertawa terbahak-bahak. Nina heran, there is something wrong between them.
“Yah, kalau itu lebih parah lagi. Aku nggak pernah pacaran sama Desy. Itu semua cuma akal-akalan dia aja biar kamu jauhin aku. Biar kamu bisa cemburu. Tapi disisi lain aku juga berterima kasih sama Desy karena dia bisa buat kamu cemburu dan aku tau kamu suka aku” ujar Farel dengan PD-nya.
Menurut Nina, Farel memang tak pernah berubah sejak dulu. Tetap jujur dan asal ceplos kalo lagi ngomong. “Iya, aku percaya. Jujur aku dulu sedikit cemburu. Tapi sekarang nggak tuh, sorry aja” kata Nina sok jual mahal. “Makanya mulai sekarang jangan maen-maen, Miss Universe nih” katanya sambil menepuk dada sebagai tanda untuk membanggakan diri.
Farel menganggukkan kepalanya. Ia paham dan ia juga tak mau menolak apa yang Nina inginkan saat ini karena dia nggak mau menyakitinya untuk yang kedua kalinya. “Oke lah, tapi kamu jawab dulu dong. Aku kan udah ngomong tadi, kalo aku suka kamu. Kamu suka nggak?”
Pertanyaan Farel memang terdengar aneh. Namun harus diakui Nina sayang padanya. Akhirnya Nina mengangguk malu. Detik kemudian pun Farel memeluk gadis yang berada di sampingnya secara perlahan. Rasa hangat pun mengalir perlahan diantara keduanya hingga menimbulkan rasa nyaman.
Keesokan harinya, Nina pergi bersama teman se-apartementnya menuju ke sebuah kios majalah. Dan ternyata ada yang mampu membuat perhatiannya tersita. Ia membaca berita bahwa dirinya telah dikabarkan memiliki kekasih yang menjadi designer kondang di Paris satu tahun belakang, Gifarel Rekagindra. Dan Ia ternyata baru mengetahui bahwa Farel adalah seorang designer. Ia hanya tersenyum melihatnya. Biarlah dunia entertain tau semua ini. Toh jika itu tak ada masalah, kenapa tidak. Dan itu semua adalah benar adanya. Dan karena tari yang ia pelajari di sebuah sanggar kecil yang terletak di pojok kampung sejak ia masih kecil telah menemukannya kembali dengan Farel di kota nan megah dan elegan ini.
-end-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar